Perjalanan hidup gadis desa menjadi penari “Tarian Maut”

Seorang gadis kecil manis, berusia 13 tahun sedang berjalan menuju pondokan beratap ijuk yang terletak di belakang rumahnya. Kicauan burung di pagi indah itu sangat menyegarkan rasa. “Bu, Karmila sekolah dulu ya,” katanya pada sang bunda yang sedang sibuk mencuci pakaian.
“Nak, hari ini adalah hari terakhir kamu bersekolah, ya.”
Karmila terkejut. “Kenapa, Bu?”
“Bapak dan Ibu sudah memutuskan mengawinkanmu dengan juragan kaya dari kota,” suara ibunya perlahan namun tegas.
“Tapi Karmila masih mau sekolah. Karmila ingin jadi guru.” katanya sambil memohon.
“Sudahlah, Nak. Bapak dan Ibumu sudah tua, tidak bisa membiayai kamu lagi,” kata ayahnya yang tiba-tiba muncul dari belakang, mencoba meyakinkan Karmila. “Kebetulan juragan Memed bersedia memperistri kamu. Ini sudah jalannya, Nak.”
Karmila hanya dapat tertegun, tak tahu harus berkata apa.

Palu telah diketukkan…. Harapan harus digantungkan....
 

 

vi + 224 hal

Bab 1 (.pdf)